Talita Pranadhipta
Belajar ikebana selama dua tahun di Tokyo. Pulang dengan dua koper dan satu ide.
Kami mulai dari satu meja kayu di garasi rumah orangtua. Satu vas, lima tangkai mawar, dan satu pertanyaan: kenapa beli bunga di Indonesia harus seribet ini?
Tahun 2019, founders kami — Talita dan Ranggi — pulang dari magang di Tokyo dengan dua koper penuh ide. Mereka melihat bagaimana orang Jepang memesan bunga seperti memesan kopi: sederhana, indah, dan jadi bagian dari ritme keseharian. Bukan hanya untuk momen besar.
Di Jakarta, bunga masih dianggap hadiah formal. Mahal, terbungkus rapat plastik, dan dipajang seminggu sekali. Kami pikir, bisa enggak ya kita bikin sesuatu yang lebih dekat — bunga yang dipetik pagi, sampai sore, tanpa drama?
“Kami enggak jual bunga. Kami jual ritual.” Begitu Talita selalu bilang ke setiap florist baru yang gabung. Setiap rangkaian yang keluar dari studio kami harus terasa seperti surat yang ditulis tangan — pelan, hati-hati, untuk satu orang.
Hari ini kami sudah punya tiga studio, 38 petani mitra, dan lebih dari sembilan puluh kru yang berbagi nilai yang sama. Tapi mesinnya tetap kecil — masih satu rangkaian, satu pelanggan, satu cerita.
Talita & Ranggi memulai floree dari satu meja kayu, melayani 5 pesanan per hari lewat Instagram. Kebanyakan ke teman-teman kuliah.
GenesisSaat semua tutup, kami pivot ke hadiah jarak jauh. Order <14:00 sampai sore, gratis kartu tulis tangan — model ini akhirnya jadi DNA floree.
PivotPermintaan dari luar Bandung mulai membanjir. Kami buka dua studio baru, lengkap dengan cold room dan workshop terbuka untuk pelanggan.
EkspansiKontrak langsung dengan kebun di Lembang, Cipanas, dan Batu — tanpa perantara. Harga lebih adil di hulu, bunga lebih segar di hilir.
SustainabilityMeluncurkan layanan langganan mingguan untuk kantor & rumah, plus atelier — kursus rangkai bunga di tiga studio. Lebih dari 1,200 alumni hingga kini.
Hari iniSetiap kru floree, dari head florist sampai kurir, kenal empat nilai ini di luar kepala. Kami pajang di setiap studio, dan kami tanya saat interview.
Bunga yang sudah lebih dari 12 jam dipetik tidak masuk rangkaian. Sisa kami sumbangkan ke kafe dan komunitas, bukan dijual diam-diam.
Kami menolak buru-buru. Setiap rangkaian dapat waktu 18 menit. Itu standar minimum, bukan target maksimum.
Kami beli langsung dari kebun, dengan kontrak musiman dan harga yang bisa diandalkan. 12% dari laba kami kembalikan sebagai dana panen.
Kami percaya bunga tanpa pesan adalah benda mati. Kartu tulis tangan gratis, dan kami latih kru untuk menulis serapi mungkin.
Kami sembilan puluh empat orang sekarang — florist, kurir, petugas QC, sampai tim CS. Berikut sebagian dari mereka yang kamu mungkin tahu lewat kartu di tiap kiriman.
Belajar ikebana selama dua tahun di Tokyo. Pulang dengan dua koper dan satu ide.
Background supply chain di FMCG. Yang ngurus jalur logistik kami dari kebun ke studio ke kamu.
Bergabung tahun 2021. Spesialis pernikahan dan rangkaian besar yang masih terasa intim.
Kebun mawar generasi ketiga di Lembang. Mitra floree sejak 2020, suplai mawar premium kami.
Setiap studio punya cold room, ruang rangkai terbuka, dan sudut atelier — tempat kami ngajar rangkai bunga setiap Sabtu pagi.
Pesan sebelum jam 14:00, kami antar sore harinya. Atau mampir ke studio terdekat, kami suka tamu yang datang tanpa janji.